Peristiwa

20 tahun Sudah Peristiwa Berdarah Tragedi Arakundo

Jembatan Sungai Arakundo

Aceh Timur  – Tragedi Idi Cut 3 Februari  1999  atau lebih dikenal dengan tragedi berdarah arakundoe terjadi di Aceh Timur.

Bedasarkan pengakuan saksi mata yang selamat, TNI  aparat Indonesia membunuh masyarakat dengan sadis dan keji, masyarakat yang tak berdosa dibaringkan di jalan, diikat tangan dan kaki, lalu ditindih batu diatas badan kemudian aparat TNI menceburkan korban Hidup-ke dalam sungai.

peristiwa ini terjadi di Idi Cut, Pukul 1 malam 3 Februari 1999.

Kini sudah 20 tahun peristiwa berdarah itu terjadi, hingga saat ini belum ada yang bertanggung jawab atas pembantaian warga sipil oleh aparat Indonesia.

Pada malam yang kelam itu, serdadu Indonesia membantai rakyat Aceh dengan rentetan tembakan membabi buta.

saksi mata melihat tiga truk militer yang mengangkut korban penembakan bergerak menuju jembatan Sungai Arakundo.

Sebelum diangkut ke truk, para korban diikat terlebih dahulu dengan kawat di sekujur tubuhnya, kemudian dimasukkan ke karung goni milik masing-masing tentara yang masih bertuliskan nama pelaku beserta pangkatnya, contohnya “Sertu Iskandar“.

Batu besar diikatkan di setiap karung sebagai pemberat, lalu karung tersebut dilemparkan ke Sungai Arakundo. Seorang saksi mata lain mengatakan bahwa ceceran darah di sekitar jembatan Arakundo berusaha ditutup-tutupi dengan pasir oleh tentara.

Pasir tersebut adalah hasil penambangan penduduk sekitar sungai yang biasa ditumpuk di dekat jembatan.

 

Tanggal 4 Februari pukul 08.00-12.00 WIB, tentara masih bertahan di sekitar lokasi pembantaian Idi Cut. Penembakan acak secara membabi buta pun masih terjadi sesekali.

Hari itu juga sampai keesokan harinya, penduduk desa melakukan pencarian di sungai dan berhasil mengangkat enam karung berisi jenazah korban. Jasad korban ketujuh yang ditembak mati ditemukan di dalam kendaraannya.

Puluhan warga sipil terluka akibat insiden ini. 58 orang ditangkap dan kabarnya disiksa saat ditahan di penjara. Mereka semua dilepaskan tanggal 5 Februari.

Tiga orang yang dituduh sebagai penceramah dalam kegiatan di Simpang Kuala sekaligus anggota GAM ditangkap aparat keamanan dan diadili.

Pasca-insiden ini, 13 orang dilaporkan hilang dan tidak pernah ditemukan lagi.

To Top