Nasional

Robot Ciptaan Ahli IT ITB Bandung Ungkap Form C1 KPU Diduga Manipulatif

Jakarta – Ahli Informasi dan Tekhnologi dari Institut Tekhnologi Bandung, Khoirul Anas menunjukkan robot buatannya untuk memonitoring layar Komisi Pemilihan Umum yang menunjukkan form C1.

Ia menuding, tangkapan layar C1 manipulatif, karena tangkapan gambarnya dari menit ke menit selalu berubah.

“Ada screen monitoring, ini robot yang saya ciptakan. Boleh sambil diklik. Itu video kanan bawah berjalan sendiri. Ini layar-layar KPU yang saya potret dari menit ke menit, mulai dari halaman nasional sampai TPS (tempat pemungutan suara). Itu dari Aceh, Bali, ada semua,” kata Khoirul, saat mengungkapkan fakta kecurangan di Hotel Sahid, Jakarta.

Ia memastikan, akan memberikan gambar screenshot situng dari menit ke menit. Karena itu, dia meminta jangan khawatir bila menemukan kecurangan pemilu.

“Inilah yang disebut robot tak ikhlas. Kalau yang pertama robot ikhlas, ini robot tak ikhlas, saya tak ikhlas Pak Prabowo, Mas Sandi dicuri suaranya. Siapa yang tidak ikhlas. Ini bukti mata lebih akurat daripada mungkin malaikat yang mereka takuti, tak mereka takuti malaikat, ini harus mereka takuti,” kata Khoirul.

Lulusan Teknik Elektro ITB ini berkelakar, tidak akan memberikan robotnya ini pada cebong. Menurutnya, robot ini memiliki keahlian investigasi forensik yang bisa diambil dari beberapa TPS secara acak.

“Kalau dibandingkan C1 dengan C1 berikutnya, latar belakangnya enggak bergerak, tetapi isinya goyang-goyang, nari-nari. Artinya, ketika proses scanning itu, seharusnya paralel antara latar belakang dan isinya. Tetapi, di sini isinya nari-nari. Artinya, ini adalah terindikasi manipulatif,” kata Khoirul.

Ia mengungkapkan, ada juga temuan C1 yang discan filter negatif. Hasilnya tak bisa dibaca. “Artinya, ini bukan hasil scanning, tetapi hasil editing di microsoft word atau photoshop,” kata Khoirul.

Terkait hal ini, Koordinator Jubir Badan Pemenangan Nasional (BPN), Dahnil Anzar Simanjuntak menilai temuan Khoirul bagus. Temuannya pun, sesuai dengan apa yang ditemukan BPN.

“Bagus ya. Karya anak bangsa yang perlu diapresiasi, upaya meninggikan demokrasi,” kata Dahnil di Jalan Sriwijaya, Jakarta, Rabu 15 Mei 2019. (asp)

 

Viva

To Top