Aceh

Santri yang Dicabuli Pimpinan Dayah Alami Trauma Berat

AI (kanan) dan MY (kiri) pimpinan dan guru di Pesantren AN di Kota Lhokseumawe. Keduanya diringkus polisi karena dilaporkan telah memaksa sejumlah santri melakukan oral seks. (Ist)

Lhokseumawe– Aksi pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum pimpinan Pesantren AN, yang berinisial AI bin N (45), berupa upaya paksa terhadap 15 santri melakukan oral seks, berbuntut panjang. Bukan saja pelaku dan seorang staf pengajar berinisial MY (26) yang ditangkap, tapi para korban mengalami trauma.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan didampingi Kasat Reskrim AKP Indra T Herlambang, Kamis (11/7/2019) dalam konferensi pers di mapolres setempat mengatakan, lima orang santri yang turut menjadi korban saat ini mengalami trauma berat.

“Hasil pemeriksaan oleh psikolog pada 6 Juli 2019, kelimanya mengalami trauma berat,” terang Ari Lasta Irawan.

Sejauh ini polisi sudah memeriksa saksi korban masing-masing R, L dan T serta juga telah meminta keterangan dari saksi lainnya yaitu CL, SO, NU, NA, da SA.

Kapolres melanjutkan, pihaknya sudah berkoodinasi dengan jaksa penuntut umum di Kejaksaan Negeri Lhokseumawe, pada 8 Juli 2019 terkait kasus pelecehan seksual tersebut.

“Setelah koordinasi dengan jaksa, pemeriksaan lima korban, pemeriksaan saksi, baru pada 9 Juli 2019 kita tangkap dua tersangka itu yakni AI dan MY. Keduanya kita tahan di Mapolres,” terangnya.

Dia menyebutkan, polisi terus melengkapi berkas penyidikan kasus itu. Sejauh ini, 15 korban sudah teridentifikasi. Namun baru lima korban yang dimintai keterangan oleh penyidik.

AI dan MY, masing-masing pimpinan dan guru pesantren di Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, terancam hukuman cambuk sebanyak 90 kali.

Indra menambahkan kedua pelaku itu dijerat dengan Pasal 47 Qanun (peraturan daerah) Provinsi Aceh nomor 6/2014 tentang hukum jinayat.

“Dalam pasal itu disebutkan pelaku terancam 90 kali cambuk di depan umum atau denda paling banyak 900 gram emas murni atau penjara 90 bulan,” pungkasnya.

To Top