Kabaracehnews

Uncategorized

Adi Laweung: Setia Seperti Matahari Mencintai Bumi

Bannda Aceh – Partai Aceh bukan sekedar tempat berkumpul untuk meraih kekuasaan semata, partai ini merupakan rumah politik bagi semua orang yang memiliki mimpi untuk mewujudkan Aceh Dar-Essalam sejahtera dan mulia. Kesetiaan saya kepada partai ini, seperti matahari mencintai bumi, terbit di ufuk timur dan tenggelam di ufuk barat, setiap hari, tanpa lelah.

Jarum jam sudah menunjukkan angka 14.00 WIB, telepon di meja kerja redaksi aceHTrend, bordering, kring! “Saya sudah di bawah,”terdengar suara dari seberang. “Sebentar lagi saya turun,” jawab saya sembari membenahi perencanaan liputan.

Lelaki itu duduk di kursi yang terbuat dari rotan, ia menghadap pagar tembok bertahta bambu. Udara panas menyengat, sesekali ia mengusap jambang yang tumbuh lebat, sekilas ia mirip Muzakkir Manaf—hanya sekilas—dalam bentuk yang lebih kecil.

“Puhaba?” sapanya sembari menyodorkan tangan untuk bersalaman, kami memang sudah janjian untuk wawancara ringan pada Rabu siang (29/8/2018).

“Alhamdulillah, baik, “ timpal saya, sembari mengambil tempat duduk tepat di depan lelaki berkulit gelap itu.

“Sudah makan siang?” katanya.

“Sudah, silahkan Abang makan, bila belum.”

“Sudah saya pesan, rasanya saya sangat mengantuk, sejak tadi malam belum sempat tidur,” katanya sembari menyulut sebatang rokok.

***

Lelaki di hadapan saya itu bernama Suadi Sulaiman, akrab dikenal sebagai Adi Laweung, pria ini memang kelahiran Gampong Laweung, Pidie, pada 26 Juni 1980, dan merupakan salah satu bekas petempur GAM di wilayah itu. Semua jenjang studi mulai dari tingkat dasar hingga menengah ia tempuh di Laweung, Mutiara Tiga, sembari sekolah ia mengaku sempat mondok di Pesantren Jabal Ulum, yang juga di Laweung.

Baca juga:  Ribuan massa ramaikan kampanye akbar Partai Aceh di Aceh Timur

“Sambil sekolah saya mengaji di pesantren itu, lama juga, sejak SD hingga SMA,” katanya sembari tersenyum.

Adi Laweung merupakan mantan anggota DPRK Pidie periode 2009-2014, dan menjabat pula sebagai Wakil Ketua Komisi A, Sekretaris Fraksi PA, anggota Banggar dan anggota Banleg DPRK setempat.

Sembari menjadi wakil rakyat di parlemen lokal, ia juga menjabat sebagai Sekretaris Umum Persatuan Sepakbola Aneuk Pidie (PSAP) yang ia jabat sejak 2010-2012, juga sebagai Wakil Sekretaris Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pidie dari 2011-2014.

“Dari politik hingga sepakbola saya urus, bahkan saya juga pernah kursus perwasitan licence C PSSI Pidie,” katanya.

Bincang itu sempat berhenti sesaat, ketika tiba satu paket menu makan siang kuah asam pedas ala Bin Ahmad Coffee, Tibang, Banda Aceh. Ia terlihat lahap, sesekali mendesis kepedasan. “Bereh that kuah nyoe, ilon di rumoh nyankeuh lagenyoe kupajoh bu cot uroe, (Mantap kuah tuna ini, beginilah saya makan siang di rumah bila makan nasi dicampur dengan kuah asam pedas),” katanya sembari menambah kuah ke dalam nasi putih.

Sembari makan ia mengatakan bahwa Partai Aceh adalah rumah politik bagi orang Aceh, baginya PA kapan dan di manapun, tetap akan ia bela, baik sebagai kader maupun sebagai orang Aceh.

Selain karena adanya hubungan “ideologi” dengan GAM, sebagai orang yang pernah naik gunung untuk membela panji Aceh Merdeka, Adi juga mengaku sebagai salah seorang yang ikut dilibatkan dalam rangka mempersiapkan deklarasi PA ketika awal mula didirikan.

Baca juga:  NasDem Dukung Penuh PA Kembali Memimpin Aceh

Ia mengatakan, sebagai kader akan tetap setia kepada pimpinan partai, tidak ada jalan baginya untuk tidak patuh. “Falsafahnya begini, bagi saya PA itu seperti matahari mencintai bumi, selalu terbit di ufuk timur dan tenggelam di ufuk barat, begitulah, kesetiaan tanpa ujung dan saya tetap loyal pada pimpinan, siapapun itu,” katanya.

Dapil Neraka

Untuk Pemilihan Legislatif 2019, Adi Laweung turut ambil bagian, akan tetapi tidak lagi ikut bertarung di Pidie. Ia di-BKO-kan ke Banda Aceh dan ditempatkan di salah satu “dapil neraka”Ule Kareng-Syiah Kuala –dapil 3—dan harus berkompetisi dengan sejumlah nama politikus yang cukup mentereng di Kota Banda Aceh, juga dengan incumbent dari PA sendiri.

Akan tetapi, ia tidak merasa dibuang. Baginya Banda Aceh memang harus “ditaklukkan”, panji PA harus semakin gemilang berkibar di Kota Madani. “Tidak ada yang dibuang, ini mandat partai yang harus saya lakoni dan saya tetap senang menjalani ini. Saya percaya bahwa partai tidak akan pernah salah mengirimkan saya ke dapil ini,” kata Suadi optimis.

Adi pun bertekad ke depan ia akan berusaha menjadikan PA sebagai partai yang humanis, ceria, modern serta diterima oleh generasi millennial. Walau itu bukan pekerjaannya secara pribadi, tapi ia tetap punya komitmen itu. “Ini partai milik orang Aceh, harus kita jaga bersama, ini rumah politik bagi kita dan generasi yang akan datang,” imbuhnya. []

loading...