Budaya

Di Balik Kisah Tari Ratoh Jaroe, Tarian Aceh Pembuka Asian Games 2018

Aceh – Assalamualaikum kami ucapkan
Para undangan yang baru teuka
Karena salam Nabi khen sunat
Jaroe ta mumat tanda mulia

Itulah sepenggal lirik yang dinyanyikan dalam tarian pembukaan Asian Games 2018 yang dihelat di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Tarian “Ratoh Jaroe” yang dimainkan 1.600 penari malam itu mengundang decak kagum. Para penari yang semuanya perempuan tampil apik di depan ribuan pasang mata.

Tarian Ratoh Jaroe sendiri merupakan tarian Aceh yang muncul dan berkembang di Jakarta. Pembuat tarian ini adalah putra kelahiran Aceh bernama Yusri yang merantau ke ibu kota Indonesia pada 1999 silam.

Setelah berada di Jakarta, Yusri mulai membuat tarian kreasi baru. Pada 2001, tarian ini pertama sekali diperkenalkan dan lambat laun mulai terkenal. Awalnya, Yusri melatih tarian ini untuk pelajar di SMA 70 di Jakarta. Berselang setahun kemudian, tarian yang menggambarkan tentang kebersamaan ini mulai diikutkan dalam kompetisi.

Pria yang akrap disapa Dek Gam ini berkisah, pada 2002-2003, festival yang digelar di Jakarta masih terbatas. Setahun paling sekali. Namun sejak 2006, event-event festival mulai kerap digelar. Yusri menyebutnya, sehari bisa tiga kali.

“Jadi tari ini menjadi sebuah tarian urban, tarian pendatang baru di Jakarta. Saya tidak bilang (tarian ini) tidak muncul di Aceh, memang tidak ada di Aceh kan, memang berkembangnya di Jakarta,” kata Yusri saat dihubungi wartawan, Senin (20/8/2018).

Kemunculan tarian ini disambut baik pelajar di Jakarta. Saat ini, sudah puluhan sekolah yang menjadikan Yusri sebagai pelatih Tari Ratoh Jaroe. Menurut Dek Gam, tari Ratoh Jaroe berbeda dengan tari Saman yang sudah dulu kesohor. Dalam tarian Ratoh Jaroe, para penarinya yaitu anak-anak perempuan, diiringi oleh rapai dan menggunakan ikat kepala dan pakaian dari Aceh.

Untuk syair dalam Ratoh Jaroe juga menggunakan lagu Aceh. Selain itu, jumlah penarinya juga tidak ganjil alias genap dan tidak terbatas. Penarinya paling sedikit berjumlah 10 orang. Hal ini berbeda dengan tari Saman yang dimainkan pria dalam jumlah ganjil. Untuk pakaian, tari Saman juga mengenakan baju khas Gayo.

“(Jadi tarian ini) muncul di Jakarta. Di Aceh (tariannya) rateb meusekat, likok pulo. Saya tidak bilang tarian ini hanya ada di Jakarta,” ungkap Yusri.

Makna yang terkandung dalam gerakan tarian Ratoh Jaroe ini yaitu tentang kebersamaan, dan kekompakan. Gerakan dalam tarian ini juga diadopsi dari tari-tari yang ada di Aceh seperti Rateb Meusekat, Likok Pulo, Rapai Geleng dan lainnya.

Beberapa bulan lalu, Yusri sudah menggelar workshop di Aceh tentang Tarian Ratoh Jaroe. Rencananya, Yusri akan menampilkan tarian yang memiliki arti bermain tangan sambil berzikir ini di Aceh pada Oktober mendatang.

“Waktu saya bikin workshop di Aceh itu orang bertanya-tanya oh begini ya Ratoh Jaroe sebenaarnya,” jelas pria kelahiran 5 Februari 1977 ini.

“Jadi yang tampil di pembukaan Asian Games itu tarian Ratoh Jaroe, bukan tari Saman,” ujar Dek Gam.

Berita Popular

To Top