Aceh

Gampong Juli Teungku Dilampoh Bireuen Sambut Idul fitri dengan Tarian Sufi

Pemain rabbani wahid mementaskan tari sufi tersebut di meunasah Gampong Juli Teungku Dilampoh. [Ist]

Bireuen – Pemerintah Gampong Juli Teungku Dilampoh, Kecamatan Juli, Bireuen, menggelar tarian rabbani wahéd, Minggu (24/5/2020) pukul 01.00 dinihari. Pagelaran menari sufi ini merupakan tradisi turun-temurun dari generasi ke generasi di sana.

Tarian sufi yang dipopulerkan kembali oleh Daud Gade Samalanga pada 1990, merupakan salah satu pementasan budaya yang bersendikan Islam. Di Gampong Juli Teungku Dilampoh digelar setiap 1 Syawal.

Keuchik Gampong Juli Teungku Dilampoh Taufik Rahadian, kepada aceHTrend mengatakan, pementasan rabbani wahalah digelar di meunasah gampong. Pada acara kali ini, turun dua kelompok usia, remaja dan pemuda. Dipentaskan sejak pukul 01.00 WIB hingga 03.30 WIB.

“Alhamdulillah, pagelaran rabbani wahéd mendapat perhatian dari semua warga. Bahkan dari golongan tua, ikut serta di sesi akhir pementasan, ”ujar Taufik.

Menurut Taufik, pagelaran rabbani wahid sudah digelar di gampong tersebut sebelum Indonesia menjadi negara. “Ini tradisi lama yang terus kami pertahankan. Banyak pihak yang mempertaruhkan salah satu warisan budaya bukan benda ini. Kemampuan berrabbani diturunkan dari generasi ke generasi di Juli Teungku Dilampoh, ”ujar Taufik.

Taufik juga mengutip, tokoh yang ikut mengeluarkan tradisi tersebut di masa lampau yaitu Teungku Imum Yatim, Teungku Hanafiah, Teungku Ismail Nafi. “Mereka adalah para syeh yang membacakan radat rabbani wahéd di masa lalu.”

Dikutip dari Wikipedia, asal-muasal tari rabbani wahéd yaitu berasal dari tari meugrob (meloncat) dimana menari itu, diputar pada malam hari Idulfitri, yang melantunkan syair-syair Allah. Kemudian hari menari meugrob berubah menjadi tarian untuk menyambut tamu atau pengantin (laki-laki) yang baru menikah dan pulang ketempat bertemu, biasanya disebut dengan peugrôb lintô . Tarian ini dimainkan di mushola-mushola dan dipertunjukkan ke khalayak ramai pada hari besar Islam, seperti Idulfitri, pembagian zakat fitrah, Maulid Nabi, bulan Ramadhan, acara panen dan hajatan lainnya, yang dibawakan oleh murid-murid Muhammad Saman.

Kini dimainkan hanya dimainkan sebagai warisan budaya, yang dihidupkan kembali oleh Daud Gade Samalanga pada tahun 1990, setelah hampir hilang tergerus zaman kolonial Belanda dan pascakemerdekaan Indonesia. []

Sumber: acehtrend

To Top