Peristiwa

Karena Cemburu, Seorang Remaja Tikam Teman dari Belakang di Lhokseumawe

Ilustrasi

Lhokseumawe, – Jika rasa cemburu sudah mendera, seseorang bisa saja “kalap” mata dan kehilangan “akal sehat”. Setidaknya, perbuatan itulah yang terjadi dan dialami AD (17), seorang warga Desa Mon Gedong Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.

Tiba-tiba. Tup,,tup, AD menikam bagian belakang IT (16) seorang temannya dengan senjata tajam di kawasan Pabrik PT. PAG Desa Blang Pulo, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Eko Hartanto menjelaskan itu pada temu pers di Gedung Serba Guna Mapolres Lhokseumawe, Selasa.

Akibat perbuatan tindak pidana itu, AD terpaksa harus berurusan dengan pihak berwajib.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Eko Hartanto SIK MH di Lhokseumawe mengatakan, kasus kejadian tindak pidana penganiayaan atau penusukan korban IT hingga kritis ini terjadi, Minggu (12/7/2020) lalu.

Pasca penusukan tadi, korban IT langsung dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Arun, Desa Batuphat untuk mendapatkan pertolongan medis. Meski kondisi korban mulai membaik, namun belum bisa dimintai keterangan.

“Pelaku dan korban masih dibawah umur, sempat terjadi kesalahpahaman terkait pacar. Sehingga terjadi penusukan. Pelaku baru saja ditangkap anggota Resmob sekitar pukul 13.00 WIB tadi,” ujarnya didampingi Wakapolres Lhokseumawe Kompol. Ahzan.

Eko menjelaskan, saat penusukan orang tua korban ZF(35) kebetulan sedang berada di dekat TKP, namun tidak menyadari bahwa anak kandungnya telah ditikam temannya.

ZF baru tahu hal itu, setelah teman korban memberitahukan kepadanya bahwa anaknya sudah terbaring dalam kondisi bersimbah dan tidak sadarkan diri dijalankan pabrik PAG.

“Dari keterangan saksi lainnya MF (15) yang juga merupakan teman korban, melihat langsung pada saat AD memegang senjata tajam berupa satu obeng yang bersarung rencong Aceh, lalu menusuk ke badan korban,” tuturnya.

Eko menyebut, atas perbuatannya pelaku diancam Pasal 80 ayat 2 UU RI Nomor 35 tahun 2014, tentang perubahan atas UU Nomor 23 tahun 2002, tentang perlindungan anak Jo UU RI Nomor 11 tahun 2012, tentang sistem peradilan pidana anak.

Karena pelaku masih tergolong anak dibawah umur, maka akan dilakukan upaya diversi sesuai Pasal L5 ayat 3 UU SPPA. Tapi, apabila dikemudian hari nanti gagal diversi maka perkara akan diproses secara hukum

[]

Modusaceh

To Top