Kabaracehnews

Ekonomi

Mendulang emas menjadi sumber ekonomi warga Sikundo, Aceh Barat

Nurani (60) pendulang emas tradisional di aliran sungai Desa Sikundo,(Antara Aceh/

Meulaboh – Kegiatan mendulang emas di aliran sungai menjadi salah satu sumber perekonomian masyarakat pedalaman yang tinggal di Desa Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh.

“Setiap hari begini lah kerjaannya, pagi sampai siang, kadang sampai sore mendulang pasir dari aliran sungai sampai ketemu butiran emas, nanti dikumpulkan dan dijual,” kata pendulang emas tradisional Nurani (60) kepada Antara di Desa Sikundo, Rabu.

Lokasi pengambilan tanah yang mengandung butir – butir serbuk emas alam yang dilakukan wanita manusia lanjut usia (manula) itu, tidak jauh dari jembatan penghubung antar Desa Jambak dan Desa Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen.

Masyarakat setempat menyebutnya dengan Indang karena caranya dengan mengoyangkan pasir yang ditempatkan di atas alat tradisional yang mereka gunakan berbentuk wajan/ kuali yang terbuat dari bahan kayu.

Baca juga:  Imigrasi Meulaboh Deportasi WNA Asal Tiongkok

“Tidak pakai air raksa, hanya diindang saja akan kelihatan butiran – butiran emas, baru nanti dikumpulkan dan dijual. Paling dapat Rp50 ribu, kadang ada juga bisa dapat sampai satu gram,” katanya kepada sejumlah wartawan.

Dalam wajan tradisional yang digunakan kaum perempuan itu bisa menyortir pasir dari butiran emas, tidak mesti harus menggunakan air raksa karena warga beranggapan, menggunakan raksa justru meruntuhkan butiran emas.

Metodenya sangat sederhana, indang emas dilakukan hanya pada saat cuaca mendukung, dengan bantuan sinar matahari akan terlihat kilauan butiran emas diantara butir – butir pasir di dalam wajan kayu yang digunakan.

Baca juga:  Diduga Masih Hidup saat Hendak Dikebumikan, Polisi Bongkar Kuburan Rasyidin

“Ini kan bisa kelihatan butiran emasnya, pasirnya juga bewarna agak kehitaman. Caranya harus di bawah terik matahari barulah bisa terlihat, yang mana butiran emas dan mana yang pasir, karena ukurannya sama kecil,” jelasnya.

Tidak ada wanita yang menggunakan alat pembantu seperti kaca mata, walau pun rata – rata usia pendulang emas di lokasi tersebut sudah usia lanjut.

Aktivitas tersebut dapat ditemui sepanjang hari, mulai dari pagi sampai sore hari apabila cuaca mendukung, namun kalau hujan maka aliran sungai tersebut akan sepi, tidak ada perempuan yang mendulang emas bisa ditemui.
Editor: Salahuddin Wahid
Sumber: Aceh (ANTARA)

To Top