Aceh

Sudah Ratusan Tahun Mata Air Sejengkal Kaki di Gampong Paya Pisang Tak Pernah Kering

Salah satu titik mata air di Gampong Paya Pisang Klat. Foto: AJNN.Net/Muksalmina

Pidie Jaya – Gampong Paya Pisang Klat, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya, adalah salah satu gampong di Provinsi Aceh yang memiliki sumber air bersih yang melimpah. Di gampong tersebut, memiliki mata air yang tidak pernah berhenti-henti mengeluarkan air. Padahal mata air tersebut hanya sejengkal dari permukaan tanah.

Kehendak Yang Maha Kuasa, mata air di Dusun Mata Ie itu tidak pernah kering meski musim kemarau tinggi melanda. Begitupun saat musim hujan tiba, kejernihan air dari mata air tersebut tidak berubah. Bahkan kolam di meunasah (surau) setempat yang telah ditimbun rata dengan permukaan, tetapi masih mengeluarkan air.

“Mata air ini tidak pernah kering, sudah ratusan tahun mata air ini tiada henti mengeluarkan air. Mungkin semenjak diciptakan dunia mata air ini sudah ada, dan airnya selalu bersih,” kata Kepala Desa (Keuchik) Gampong Paya Pisang Klat, Tarmizi Hanafiah kepada AJNN, Selasa (9/7).

Terdapat sekitar 10 titik mata air di Gampong Paya Pisang Klat, meski masih dengan kondisi kolam tanah, akan tetapi air yang dikeluarkan dari sumber itu juga sangat bening nan bersih. Bahkan Tarmizi telah menguji kualitas air tersebut dengan cara menyimpan air dari mata air itu selama tiga bulan. Namun air tersebut tidak berubah warna, kualitas, bahkan rasanya sekalipun.

Menurutnya, secara kasat mata dan logika, air dari sumber mata air tersebut lebih bagus dibandingkan air mineral yang dijual dipasaran. Jika diolah dan dipasarkan dalam bentuk air mineral, tentu saja air tersebut akan bertukar bentuk menjadi rupiah.

“Biasanya kalau air sumur kita simpan sampai tiga bulan pasti akan berubah, paling tidak akan berjamur dan rasanya akan berbeda, tetapi air dari mata air ini tidak berubah sama sekali, sedikit jamur pun tidak ada,” jelasnya.

Meski sudah ratusan tahun air melimpah di gampong tersebut, namun hingga saat ini, pemimpin gampong setempat, bahkan Pemerintah Pidie Jaya sendiri belum mampu menjadikan sumber mata air itu sebagai sumber pendapatan gampong. Sehingga sumber air yang bersih nan jernih itu mengalir begitu saja mengikuti alur parit.

“Jika kita berkaca di Pulau Jawa, yaitu di Desa Tonggok, Jawa Tengah, desa tersebut berhasil meraup belasan miliar pertahun. Pendapatan miliaran itu tidak terlepas dari sumber air yang melimpah di desa itu,” ujarnya.

Hanya saja, mau atau tidaknya pemerintah setempat dalam mengolah sumber air menjadi pendapatan. Kendati tidak dapat bersanding dengan Desa Ponggok, tapi jika melihat sumber air yang melimpah, paling tidak Gampong Paya Pisang Klat dapat mengikuti jejak apa yang telah di terapkan desa di Kabupaten Klaten itu.

Tarmizi menjelaskan, selama dana desa dikucurkan, pihaknya lebih fokus membangun infrastruktur dasar seperti jalan dan bangunan.

“Karena gampong kami luas, dana desa yang kami terima, kami lebih fokus untuk pembangunan infrastruktur,” sebut keuchik.

Namun menilik perkembangan Desa Ponggok, dirinya sangat bertekad menjadikan gampong tersebut sebagai gampong wisata air di Pidie Jaya, hanya saja, hal itu katanya membutuhkan dukungan dari semua pihak.

Tahun ini, lanjut Keuchik Paya Pisang Klat, gampong tersebut mendapat suntikan dana dari pemerintah sebesar Rp 300 juta untuk pembangunan pamsimas yang direncanakan sumber airnya diambil dari salah satu mata air di gampong itu.

“Tahun ini Insyaallah gampong kami ada pembangunan pamsimas. Jika melihat Desa Pongok itu, saya sangat tertarik. Namun untuk mewujudkan seperti gampong itu, tentunya kami membutuhkan dukungan dari semua kalangan,” imbuhnya.

To Top